
Buk Iyeh, begitu orang-orang di kampungnya memanggil. Perempuan yang setia dengan skrup di tangan dan kain sarung yang dibalut di kepala untuk menghalau panas musim kemarau seolah sudah menyatu dengan Buk Iyeh, menjadi seragam wajib sekaligus senjata mengais garam. Satu-satunya jalan bertahan hidup mengais rezeki Tuhan, sebagai perewan tua yang setia menjaga ibunya berbaring di kamar disela-sela pekerjaannya.
Tubuhnya ideal dan cendrung atletis. Ia duduk menyandarkan dirinya di tiang rumah, melepas lelah setelah hampir seharian berada di tambak mengangkis garam. Sembari ngobrol bersama tetangga, kebiasaan di kampung Buk Iyeh. Para ibu-ibu itu membicarakan apa saja dari teras rumah masing-masing yang berjarak antara 3 sampai 5 meter, seperti memang tak ada yang perlu dirahasiakan. Selain suara mereka yang memang keras, terutama Buk Iyeh. Juga sudah bawaan dari tradisi bicara sepatah dua patah kata tapi banyak pembahasan yang paling penting, jelas dan tegas, keras adalah bentukan alami.
“Buk Iyeh, besok ngangkis di Bun-rabun, punya Mat Sale,” ungkap Buk Tipah sebagai ketua kelompok perempuan-perempuan pengangkis garam itu dan penyambung lidah para pemilik garam.
“Wah, iya. Di mana?” Buk Iyeh langsung menimpali dengan pertanyaan.
Sepertia biasa, Buk Iyeh akan selalu kegirangan mendengar kabar itu. Kecerahan wajahnya masih bertahan meski sudah beranjak tua. Kaku. Membuat ia jarang senyum, tapi tawanya cukup mengagetkan orang tidur.
Percakapan mereka berlanjut dari titik temu keberangkatan, waktu, jumlah tambak, setelah di sana pindah ke mana, saling membicaran hasil bayaran, ikan, seakan tak kan berhenti kaum ibu-ibu itu bicara, seandainya tidak ada adzan maghrib yang mengingatkan.
Tak banyak yang diinginkan Buk Iyeh. Garam seakan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Buk Iyeh. Hidup dengan Ibunya yang sakit-sakitan. Ayahnya meninggal saat Buk Iyeh baru lulus SD. Awalnya hanya bantu-bantu menjahit karung yang berisi garam, sampai menjadi seorang pengangkis garam yang terhampar di tambak untuk dimasukkan ke brunang (keranjang terbuat dari rotan) yang akan diangkut para lelaki ke tempat penampungan.
Kemarau di kampung Buk Iyeh memang selalu jadi waktu yang paling istemewa, hampir semua penduduk kampung tak ada yang menganggur. Bagi para lelaki cukup bermodal sepeda ontel yang dimodifikasi dengan penambahan besi di beberapa rangkanya. Perempuan yang ingin bekerja cukup bermodal jarum panjang atau sedong skrup yang berbentuk persegi panjang, sedikit melengkung, ujung depannya tajam, bagian belakang tumpul untuk pegangan, diberi kawat besi sebagai pengait, agar mudah saat mengayun dan menyendok garam. Namun, tidak berarti musim hujan menghalangi rezeki mereka. Di kampung Buk Iyeh bisa saja disebut tanah surga terlihat sawah dan tambak rukun, hidup berdampingan tak pernah saling mematikan. Meski hanya dipisahkan tabunan seluas dua meter sebagai jalan besar.
Buk Iyeh bangun mendahului kokok ayam, ia langsung beranjak dari tempat tidurnya ke kamar mandi, kemudian dilanjut dengan shalat sunah dua rakaat. Setelah itu ia langsung ke dapur, melakukan aktivitas seorang ibu rumah tangga–meski belum pernah berkeluarga–seperti memasak untuk ibunya dan persediaan bekal nanti bekerja.
Di perempatan Copa Deng-deng perempuan-perempuan garam itu sudah berkumpul. Buk Iyeh muncul bersama matahari yang merangkak, bayangan tubuhnya tiba lebih dulu.
“Penampilan Buk Iyeh gak pernah berubah, ya, selalu alakadarnya,” ungkap salah satu perempuan di perempatan itu.
“Ya, udah kebiasaannya. Berdandan hanya saat ada acara besar. Lagian kita mau nyendok garam di tambak, untuk apa juga?” yang lain menimpali.
“Ini saya punya gorengan pisang masih hangat. Cobalah!” Buk Iyeh tiba dan langsung menawarkan gorengan yang dibuat sendiri tadi selepas subuh.
“Wah, Buk Iyeh memang tak pernah lupa membawa camilan,” ucap Buk Tipah.
“Addoo…, tak usah banyak bicara, makan aja. Lagian cuma gorengan,” tandas Buk Iyeh yang memang selalu ceplas-ceplos kalau bicara.
Tiba di tambak, para perempuan itu langsung melakukan pekerjaannya. Tanpa menunggu aba-aba seperti sudah hafal, setiap ada tumpukan-tumpukan garam yang berjejer di tengah tambak, pasti itu yang akan diangkes (dinaikkan ke atas pematang). Tentu sesuai dengan kesepakatan pemilik, bayaran tergantung dari berapa ton garam yang dihasilkan.
Setiap hari, setelah selesai bekerja bayaran akan diantarkan ke rumah masing-masing. Buk Iyeh tak pernah lupa untuk memberi imbalan kepada siapa saja yang mengantarnya. Terlebih saat sanak keluarga yang Buk Iyeh senangi, anak-anaknya selalu mendapatkan bagian dari hasil peluhnya. Dan sebagian lagi akan ditabung sebagai persiapan di musim hujan. Seperti itu dan seterusnya kehidupan Buk Iyeh berjalan. Tak pernah perhitungan setiap ada sumbangan pembangunan masjid, dan bulan asyura, selalu menyisihkan rejekinya untuk dinikmati bersama.
PEREMPUAN-PEREMPUAN GARAM TAK PERNAH MENGELUHKAN PEKERJAANNYA, BAU ASIN TUBUH, SENGAT MATAHARI, HEMPASAN ANGIN LAUT SUDAH JADI TEMAN MAIN DI TENGAH KILAU GARAM YANG MEMANTUL CAHAYA.
Tubuh Buk Iyeh tak pernah menolak, ia relakan seluruhnya berjalan tanpa beban. Ayunan demi ayunan skrup keluar dari tangannya yang terlihat gempal padahal hanya dilapisi kaos tangan. Dengan sepatu boot yang langsung berendam di tengah air yang diseduh matahari. Terlihat Buk Iyeh mengelap peluh di wajahnya dengan kain sarung yang dibalutkan untuk menutupi kepala. Angin selalu senang mengibas-ngibaskan baju Buk Iyeh yang longgar, bergerak pelan mengikuti tumpukan demi tumpukan garam yang berjejer di tambak. Sejuta syukur tak pernah bisu dari dadanya. Setiap tumpukan garam tersedia tiga kali angkutan brunang.
Matahari condong ke barat. Bayangan pohon bakau mengenai kaki mereka. Meski tak pernah menentukan waktu pulang, sampai garam di tambak habis. Hanya dari tangan perempuan-perempuan itu pekerjaan akan lebih cepat selesai. Pekerjaan ngangkes buje (menaikkan garam ke atas pematang) tak hanya dimulai dari pagi. Seperti saat bulan Puasa, pekerjaan itu bisa dilakukan malam hari menggunakan lampu storking sampai jelang sahur dan dillanjutkan selepas subuh.
Buk Iyeh tiba di rumahnya setelah iqamah maghrib. Kebetulan lokasi tambaknya lumayan jauh, harus ditempuh dengan sampan. Ia langsung berbenah diri melakukan rutinitasnya sebagai hamba sahaya.
“Buk Iyeh…, Buk Iyeh…!” Suara Holil memecah keheningan rumah Buk Iyeh, “ini bayaran pekerjaan hari ini, dikurangi ongkos sampan.” Lanjut suruhan Buk Tipah itu setelah mendapati pintu rumah Buk Iyeh terbuka. Buk Iyeh langsung menghampiri Holil setelah melipat mukenanya dengan sajadah.
Ini buatmu, Lil, untuk beli rorok. Sambil mengulurkan tangannya yang memegang dua lembar puluhan ribu. Kebiasaan perempuan kampung shalat cukup mukena untuk menutupi seluruh auratnya. Sedangkan, di dalamnya cukup selembar sampir yang dililitkan pada tubuhnya. Buk Iyeh sendiri merasa wajar sebab di rumah sendiri. Kebetulan yang datang tetangga satu kampung. Jadi, untuk apa masih malu. Bukankah semua ibu-ibu di kampung Buk Iyeh selalu mengenakan pakaian seperti itu di hari-hari biasa atau saat santai di depan rumah masing-masing. Sedang, usia Buk Iyeh tak jauh beda dengan mereka yang sudah punya menantu.
ASAP mengepul dari dapur Buk Iyeh, selalu dan setiap pagi.
WAJAH YANG SELALU BASAH DENGAN AIR WUDHU ITU, TAK PERNAH RISAU DENGAN PELUH, MESKI HARUS MENUTUP HIDUNG DI DEPAN TUNGKU DAN MENAHAN PERIH DI MATA YANG BERKACA-KACA SETIAP MEMASAK.
Keringat di wajahnya menetes ke ujung kayu, seperti bulir air yang jatuh dari daun dan air hujan yang tergelincir di jendela kaca rumah Buk Iyeh.
Hujan pagi ini membuat perempuan-perempuan garam menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga. Buk Iyeh masih semangat di dapurnya. Dengan terbata-bata ibunya menghampiri Buk Iyeh kemudian bertanya, “Untuk apa masak sebanyak ini, Yeh?”
“Sekarang jum’at kliwon, Buk. Di masjid pasti ada hataman-qur’an.
AKU MASAK UNTUK LASORAN TUMPENG SEKALIAN SALAMETAN (DOA) UNTUK BAPAK DI SANA, BU,”
jawab Buk Iyeh sembari membenarkan posisi kayu di tungku.
Kampung kembali terang. Matahari tiba di pucuk pohon bambu. Orang-orang mulai beraktivitas; ibu-ibu yang pergi ke pasar, para lelaki dengan sepeda ontelnya, serta anak-anak berangkat sekolah mewarnai tabunan tambak yang menjadi jalur utama keluar-masuk kampung.
Buk Iyeh berjalan pelan dengan panci besar berisi hidangan yang dibungkus dengan taplak meja, bertengger di atas kepala untuk mengantar nasi lasor ke masjid. Dari menara masjid suara pemimpin hataman terdengar masih membacakan tawassul (doa) kepada para pendahulu serta kepada nama-nama yang dicantumkan seluruh kepala keluarga dalam amplop yang berisi uang tiga ribu.
MUSIM kemarau berlalu. Sawah-sawah tampak hujau. Intensitas hujan makin tinggi para petani garam mengalihkan tambaknya dengan bertani ikan. Bahkan, sebagian sudah panen dan petani sawah sudah hampir yang kedua kalinya. Banjir di kota-kota menjadi hidangan berita harian televisi.
Musim penghujan kali ini lebih lama, biasanya memasuki bulan Maret hujan sudah jarang turun. Kali ini, hingga bulan ketujuh hujan masih sering mengguyur. Padahal, seharusnya agustus sudah menjadi puncak musim semi, di mana angin laut dan panas menguasai dan gencar-gencarnya panen garam.
Cuaca semakin tak nentu, siang begitu panas dan terik tiba-tiba hujan turun malam hari, membuat kondisi fisik lebih cepat melemah. Bekal Buk Iyeh yang ditabung selama musim kemarau semakin menipis. Kondisi ibunya yang sakit-sakitan membuat Buk Iyeh lebih lama di rumah untuk merawatnya. Dokter bolak-balik setiap minggu memeriksa ibu Buk Iyeh.
Buk Iyeh yang priang dan senyum kakunya luluh di samping balai bambu tempat ibunya tidur memenuhi panggilan Tuhan. Orang-orang berlalu-lalang sampai proses pemakaman selesai. Buk Iyeh masih berwajah datar di tengah tamu yang datang. Rumah Buk Iyeh dipenuhi banyak orang. Ada yang bantu-bantu masak, dan apa saja dilakukan, termasuk para lelaki untuk mengangkut air kebutuhan dapur selama tujuh hari.
Di sela-sela keriuhan ibu-ibu di dapur,
“BUK IYEH, MENDING SEGERA MENIKAH, DARI PADA TINGGAL SENDIRIAN.”
Celutukan itu diabaikan sama Buk Iyeh. Ibu-ibu lainnya menimpali sambil membolak-balikkan nasi yang baru dikeluarkan dari dandang besar, “Kamu ini Dun, bicara asal-asal aja. Buk Iyeh masih berkabung.”
Meski sedikit terdengar jengkel di telinga Buk Iyeh, tapi tak sedikit pun ia malu akan statusnya. Sebab, ia sudah pasrah dan selalu ingat pesan ibunya dulu. “Yeh, dina yeh jek ter-kabeter juduh jiah andieng Allah (Yeh, biarkan saja ya jangan khawatir, jodoh itu di tangan Allah).”
ACARA empat puluh harian ibu Buk Iyeh sudah berlalu. Meski tinggal sendirian tidak membuat Buk Iyeh malas-malasan bekerja. Sedang hujan masih sering datang satu minggu sekali. Buk Iyeh mulai mencari pekerjaan baru, garam belum bisa diproduksi selama masih sering turun hujan.
Buk Iyeh mulai ikut ke sawah memanen padi, biasanya akan mendapatkan upah beras. Untuk ikan Buk Iyeh selalu membantu melepaskan ikan dari jala pelaut tiap habis isyak. Atau akan sangat senang sekali jika tambak mulai panen ikan. Sebab, sisanya akan dibebaskan untuk diambil orang yang sering disebut tuasan (panen raya).
Suara-suara tetangga mulai berisik di tengah tangannya yang sibuk melucutkan ikan dari jala. Holil yang duda menghadiri panggilan kiyai kampung. Istri sang kiyai menemui Buk Iyeh di rumahnya. Di bawah hujan, tanpa tenda besar, tanpa puadai. Buk Iyeh mendapat rezeki besar.
0 Response to "Perempuan Garam"
Posting Komentar